3 hari rumah sakit

senin sore, dia runtuh juga..
rumah itu menjadi andalanku untuk menidurkannya..
bagaimana tidak, sudah paradigma ruang itu menjadi penolong..

beban apa yang dia angkat? sampai dia harus berbaring lemah??
kata orang, dari 10kg beras yang dia jinjing, 9kg itu beras untuk makan aku..
sebegitunya kah dia memiliki beban terhadapku??
apa aku harus tidak makan untuk membuatnya hanya membawa beras 1 kg saja???

rasa lapar ini apa bisa ku tahan?? untuk dia...
apa bisa??
apa yang kupertaruhkan selama ini??
perut??
kita lapar karena apa tho?
otak kita berkata kita lapar baru kita makan ato perut kita lapar baru kita makan??

tak ada yang kurasakan saat kulihat dia terbaring,
mataku pun tak bisa melihat, tapi mengapa berair..
kenapa hati ini sesak..
kenapa rasa ini seakan terkoyak..
aku harus bagaimana??

tiada yang kupertaruhkan, kecuali perasaan semua...
rasaku..hampa..sunyi..
tiada tempat untuk berjuang..
semua lenyap dalam kesunyian...

kulepas rasa ini untuk terus berkembang dalam hati..
kurelakan semua untuk nya..
kuikhlaskan semua kepada Nya...
hanya Dia yang mampu mengangkatku...

                            

pertama

terkadang bibir sulit untuk mengucap..
lidah tak mampu mencipta kata dan bahasa..
hanya bahasa hati yang mampu merangkum semua rasa yang ada..

apa aku harus menyalahkannya..
atau aku harus menyalahkan diri ku sendiri..

keegoisan..ternyata mampu merajai segalanya...
tetapi, kasih dan cinta masih mampu meratui keegoisan itu...

rasakan rasa itu..rasa yang begitu lembut menyusup dalam hati kita..
selagi dia masih melingkupi hatimu...
karena anugerah ini selalu berasal dari Tuhan.. tanpa rekayasa...